Curi Ikan, 2 Kapal Ikan Ilegal Berbendera Malaysia Ditangkap KKP

Curi Ikan, 2 Kapal Ikan Ilegal Berbendera Malaysia Ditangkap KKP

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melakukan penangkapan terhadap dua kapal penangkap ikan yang melakukan perampokan ikan di perairan Indonesia. Kedua kapal tersebut berusaha kabur, sebelum akhirnya lumpuh untuk membangun kapal pengintai KKP.

Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Tb Haeru Rahayu mengatakan, pihaknya berhasil menangkap dua kapal asing berbendera Malaysia yang melakukan aktivitas illegal fishing di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Naka. Indonesia.57

Kami mengonfirmasi penangkapan dua kapal asing berbendera Malaysia oleh Shark Fisheries Supervisory Ship 01, yang berlangsung pada Sabtu 31/10 di Selat Malaka. Kedua kapal tersebut bereaksi dengan melarikan diri, namun ditangkap di Senha pada 2 November 2020.

Selain itu, Thebes, panggilan akrab Tb Haeru Rahayu menjelaskan bahwa operasi pengawasan yang dilakukan oleh Kapal Pengawas Perikanan Hiu 01 yang dipimpin oleh Kapten Albert Essing berhasil dihentikan, kurcaci dwlatana PK95 tersangkut dwlatana PK95 menangkap dwlatada Malaysia. double hand check p ° 13.005 'LU-100 ° 37.581' BT dan KM PKFA 7435 pada koordinat 03 ° 16.008 'LU - 100 ° 34.503' BT.

Bersama dua kapal itu, delapan awak kapal, semuanya WNI, juga diasuransikan. Saat ini kapal dan seluruh awaknya berada di stasiun PSDKP Belawan untuk menjalani proses hukum lebih lanjut

“Kami sedang dalam tahap pemeriksaan pendahuluan, kami akan menyusun undang-undang sesuai dengan ketentuan hukum,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kedua kapal tersebut diduga melakukan perampokan ikan oleh WPP-NRI 571 Selat Malaka dan diduga melanggar Pasal 92 juncto Pasal 26 ayat (1), Pasal 93. ayat (2) juncto Pasal 27 ayat (2), Pasal 85 juncto Pasal 9 ayat (1)), dan Pasal 98 juncto Pasal 42 ayat (2). ) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2004 yang Berkaitan Dengan Perikanan.

Sementara itu, Pung Nugroho Saksono, Direktur Pengawasan dan Operasi Armada, mengatakan modus operandi penggunaan kapal Indonesia semakin banyak diterapkan oleh WPP-NRI 571 di Selat Malaka.

Menurut Pung, hal ini patut diwaspadai karena pengusaha Malaysia cenderung memanfaatkan awak kapal untuk menemukan ikan di perairan Indonesia.

"Lagi-lagi modus operandinya begini, mereka menggunakan WNI untuk menganalisa ikan dari wilayah perairan kita. Ini tentunya membutuhkan upaya pembenahan bersama," kata Pung.

Berdasarkan tanggal KKP, sebanyak 78 kapal ikan ditangkap di bawah kepemimpinan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo dengan rincian 59 kapal penangkap ikan asing (KIA) dan 19 kapal penangkap ikan Indonesia (KII). Kapal berbendera asing terdiri dari 27 KIA berbendera Vietnam, 16 KIA berbendera Filipina, 15 KIA berbendera Malaysia, dan 1 KIA berbendera Taiwan.