"Bunga untuk Pejuang", Amanat untuk Memuliakan Para Pahlawan

Ketika tetesan darah mengalir demi merdekanya bangsa, namun kadang kala dilupakan. Lalu, bagaimana kita menghormati pahlawan kita?

Ketika kepalan sang Pahlawan tak kau hiraukan. Lalu dengan apa wujud cintamu terhadap Indonesia?

Rasa nasionalisme perlu kita pertahankan hingga sekarang. Generasi penerus bangsa ada di tangan kaum anak muda. Pertanyaan yang selalu terlintas dibenak saya sampai sekarang, bagaimanakah nasib tanah air tercinta ini di masa depan? Apakah ini yang dinamakan merdeka?.

Keprihatinan saya terhadap arus perkembangan zaman terkait segala aspek kehidupan masyarakat yang begitu cepat membuat hati saya ciut akan terkikisnya nilai-nilai nasionalisme ditangan generasi penerus bangsa. Bagaimana tidak? Tanpa kita sadari, kita terlalu larut mengarungi hal-hal yang bersifat up to date, modern, dan sebagainya.

Disitulah letak keluputan kita. Pertanyaan selanjutnya, dimanakah letak kesenangan kita untuk bertamasya? Kegemaran kita saat bertamasya tidak lagi mengunjungi tempat-tempat bersejarah seperti museum, candi, dan sebagainya. Apalagi berziarah ke makam untuk menengok para pahlawan kita.

Ini juga terjadi kepada diri saya, mungkin juga bagi Anda. Kita lebih senang mengunjungi tempat-tempat seperti caf, mall, bioskop dan sebagainya ketika berjalan dengan teman-teman, liburan bersama keluarga. Tempat-tempat  itu selalu menjadi pilihan terfavorit sehingga membludak seperti lautan manusia.

Bahkan mungkin di antara kita banyak yang mengabaikan tanggal-tanggal peringatan hari besar Nasionalisme bumi pertiwi kita. Sebentar lagi, tepat tanggal 10 November kita memperingati hari Pahlawan. Apakah yang akan kita lakukan ketika terjadi peringatan hari Pahlawan di tahun 2020 ini? Atau justru kita akan melewati tanggal tersebut begitu saja?

Saya menemukan film pendek berdurasi tiga menit lima belas detik yang rilis pada tahun 2020. Film tersebut saya temukan dari YouTube Channel Kamarkecil Studio dengan judul "Bunga untuk Pejuang". Film tersebut mendapatkan penghargaan sebagai Skenario Terbaik Film Pendek Nasionalisme PFN tahun 2020 (Aninda,2020).

Film tersebut diperankan oleh Lasiman dan disutradari M. Rizal Hanun. Waktu yang sangat singkat, namun ketika saya menonton film tersebut saya begitu menikmatinya sehingga dapat mengetuk hati saya. 

Perasaan campur aduk yang saya rasakan ketika menonton film tersebut. Haru, salut, merinding, deg-degan, menjadi sebuah refleksi terhadap diri saya sendiri. Lantas, perihal yang tua menghargai pahlawan, yang muda bagaimana?.

Hati saya bergejolak menyimak film tersebut dengan seksama sambil berkata dilubuk hati terdalam, "Wah, film ini sangat sederhana, dan memang benar terjadi sesuai realitas yang terkadang kita sengaja menutup mata".

Film 'Bunga untuk Pejuang' menceritakan seorang kakek bernama Lasiman yang mengunjungi makan para pahlawan untuk menemukan makam ayahnya bernama Warsito Budiono yang merupakan pejuang pertempuran 10 November. Namun, naas nasib kenyataan getir diterima oleh Lasiman, ia terpaksa mengikhlaskan rindu yang tak kunjung usai ketika ingin menengok makam ayahnya tersebut.

Lasiman menjadi sosok ang patut kita jadikan teladan dalam film tersebut. Tercermin kuat sikap nasionalisme Lasiman yang terus berjuang mencari dan tidak pernah lupa akan jasa para pahlawan yang berjuang untuk bumi pertiwi kita tercinta Indonesia. 

Nasionalisme merujuk pada sikap percaya seseorang terhadap bangsanya dimana ia dilahirkan (Ryan, 2010,h.110). Sikap nasionalis dapat membawa kita lebih mengenal dan dapat melestarikan nilai-nilai budaya yang patut kita perjuangkan selaras dengan ideologi negara kita yaitu Pancasila.

Film "Bunga untuk Pejuang" menurut saya menarik karena mengangkat kearifan lokal dengan sepanjang alur cerita menggunakan dialog berbahasa Jawa.

Kemudian, ditilik dari segi latar belakang tokoh Lasiman dilihat dari kesederhanaan kakek yang hidupnya sebatang kara sebenarnya menandakan bahwa ia menderita lahir dan batin karena terabaikan. Kakek Lasiman terlihat sudah putus asa, tidak ada harapan lagi untuk kebahagiaan dirinya disisa hidupnya.

Ah, ini membuat saya teringat dengan sosok Bu Obrok yang diperankan oleh teman saya bernama Aulia Rahmadhani dalam pementasan naskah "Prex" karya Pulung Laksono Ardi yang kebetulan juga memunculkan tokoh kaum pinggiran.

Bu Obrok hidup sebatang kara yang selama sisa hidupnya ia habiskan dijalanan untuk mencari anaknya yang tidak tahu keberadaanya. Keadaan batin antara bu Obrok dan Lasiman sama, karena saya bisa merasakannya. Ada dialog Bu Obrok yang cocok untuk menggambarkan keadaan Kakek Lasiman yaitu "menanti dan terus kunanti".

Film ini mengajarkan kita banyak hal terutama untuk tidak mengesampingkan atau meremehkan hal-hal kecil. Selain itu, film tersebut berhasil menunjukkan bahwa sikap nasionalisme dapat dilihat dari sikap sesederhana apapun seperti ketika kita mengingatnya nama para pahlawan saja, kita setidaknya sudah menunjukkan sikap nasionalisme. 

Jadi, nasionalisme tidak selalu merupakan hal yang terlihat besar. Kemudian, film tersebut juga mengajarkan kita untuk menumbuhkan sikap saling menghormati dan toleransi.