"Ini Matcha Bukan Pandan", Jembatan Kesenjangan Generasi

Bagaimana rasanya jika suamimu lupa memberi tahu bahwa ayah dan ibunya akan berkunjung ke rumah kalian? Bagaimana rasanya ketika mertua datang berkunjung pada saat wajahmu masih penuh olesan masker, rumahmu masih berantakan dan kamu belum masak padahal sudah waktunya makan siang?

Inilah yang dialami Lulu pada suatu akhir pekan yang cerah. Ia sedang berbaring di sofa menunggu masker di wajahnya kering ketika pluit dari teko di dapurnya berbunyi nyaring. “Tolong matiin kompornya, please,” serunya pada Gandhi suaminya.

Gandhi, cowo brewok yang hobi futsal dan sudah bersiap akan berangkat futsal itu dengan senang hati mematikan kompor. “Sayang, kaos kaki futsal mana, ya?” tanpa beranjak dari sofa, Lulu menunjuk kaos kaki di keranjang pakaian.

Melihat Gandhi sibuk mencari botol minum, Lulu bergegas bangkit dari sofa. Sambil mengingatkan Gandhi bahwa botol minum ada di meja makan, ia mengambilkan dompet dan kunci motor untuk suaminya.

Gandhi pamit berangkat futsal dan Lulu mengingatkan untuk “memberi makan” monstera. Gandhi membawa pot berisi monstera ke teras. Sambil menyalakan mesin motor, dia berkata, “Makanlah sinar matahari yang banyak, berfotosintesislah, biar kamu cepat besar …”

“Bicara kok sama tanaman,” sebuah suara mengagetkan Gandhi. Lebih kaget lagi ketika melihat siapa yang sedang berbicara. “Eh, Pa, Ma …” sapa Gandhi salah tingkah lalu buru-buru masuk ke dalam rumah.

“Lu, Papa Mama datang.” kalang kabut Gandhi dan Lulu merapikan barang-barang yang berantakan di ruang tamu. Dengan salah tingkah, Lulu berkata, “Siang Pa, Ma. Maaf, rumahnya berantakan. Saya gak tau loh, Papa Mama mau datang.”

Ternyata, ibu Gandhi membawakan roti pandan buatannya. Sambil mengiringi langkah Lulu ke dapur, sang ibu bertanya, “Hari ini masak apa, Lu?” Pertanyaan yang membuat Lulu salah tingkah lagi. “Belum masak, Ma.”

Prahara ternyata belum selesai buat Lulu. Ibu Gandhi berkata lagi. “Ya sudah, kita masak sebentar.” Sambil berkata demikian, ia berjalan ke arah kulkas. Lulu buru-buru mendahului dan menghalangi langkah ibu mertuanya. “Belum belanja.”

Masih salah tingkah, Lulu meminta Gandhi memesan makanan untuk makan siang lewat aplikasi. Namun, ayah mertuanya menyarankan agar mereka makan roti pandan yang dibuatkan ibu mertuanya saja.

 

“Mama sengaja bangun subuh-subuh untuk bikinnya lho. Tau sendiri kan kalau mamamu udah bikin roti. Semua ditimbang sangat akurat. Gak boleh ada yang terlewat. Diuleni dengan penuh cinta sekuat tenaga. Sudah masuk oven pun ditongkrongi sampai beres.”

Kesenjangan antara Lulu dan ibu mertuanya masih terus berlanjut. Sebut saja komentar sang ibu mertua saat melihat Lulu membuat roti menggunakan breadmaker.

“Kamu buat roti pandan juga?” tanya ibu mertua melihat Lulu memasukkan larutan berwarna hijau ke dalam adonan, yang dijawab Lulu “Bukan, Ma. Ini matcha, bukan pandan.”

Lalu komentar ibu mertua melihat Lulu memasukkan semua adonan ke dalam breadmaker dan menekan tombol. “Kamu bikin roti atau masak nasi? Kok ngasal gitu? Gak diuleni dulu?”

Kata orang, semua ibu punya naluri untuk melindungi anaknya dan sering tidak sadar bahwa anaknya sudah dewasa dan sudah berkeluarga. Tanpa sadar ingin mengatur hidup anak, sepertinya sudah pembawaan alami.

“Ada tamu kok tidak masak? Mau dikasih makan apa anak kita?” bisik ibu Gandhi kepada suaminya, yang dijawab dengan santai, “Sudahlah, namanya anak muda, maunya serba praktis saja.”

Puncak konflik terjadi ketika kedua orang tua Gandhi pamit pulang dan Gandhi hendak membawa gelas-gelas kotor ke dapur. “Eh, sama mama aja. Masa laki-laki ngurus ginian.” Gandhi berusaha menetralkan suasana dengan menjawab, “Kami kerja sama, Ma, saling membantu. Urusan rumah kan gak mesti dia semua. Dia kan kerja juga.”

Jawaban Gandhi ternyata memancing emosi sang mama yang langsung mengomel, “Makan beli di luar. Ngelipat baju ngasal. Urus rumah itu gak ada yang instan. Semua butuh proses. Urus rumah aja gak beres. Apalagi urus kamu? Pantas Tuhan tidak mempercayakan anak pada kalian.”

Bagaimana kelanjutan kisah Gandhi, Lulu dan kedua orang tua Gandhi? Ketika emosi yang berbicara, maka semua perbedaan tampak seperti sumber petaka. Namun, saat hati dan kasih dilibatkan, semua perbedaan terjembatani dan menjadi indah.

Film pendek yang hanya berdurasi 23 menit ini cocok dijadikan cermin untuk mereka yang sedang mencari kiat hubungan harmonis menantu dan mertua.