The Rise of Movie Streaming Platforms in Indonesia: What Comes After?

The Rise of Movie Streaming Platforms in Indonesia: What Comes After?

             Anda mungkin familiar dengan platform video-on-demand (VOD) seperti Netflix, Amazon Prime, Disney+, Viu dan lainnya. Anda juga mungkin sudah berlangganan ke salah satu platform tersebut untuk menonton katalog konten mereka di waktu luang anda. Namun platform movie streaming baru saja berkembang di Indonesia pada beberapa tahun terakhir, dengan masuknya Netflix ke Indonesia di 2016 yang diikuti oleh banyak platform streaming lain yang berusaha untuk menawarkan alternatif dari media tradisional seperti TV. Servis VOD telah menunjukan peningkatan yang sangat tinggi di Indonesia, dengan user penetration diproyeksikan mencapai 17.7% pada 2025, peningkatan dari 4.7% tahun ini. Ini juga diikuti dengan peningkatan pendapatan dari US$ 270 juta pada 2020 menjadi US$ 571 juta pada 2025, dengan proyeksi penumbuhan pertahun sebesar 15.7%.[i] Dengan adanya pandemi Coronavirus, hal ini juga telah menaikkan jumlah  permintaan dan langganan servis VOD di Indonesia, dikarenakan banyaknya orang yang tetap tinggal di rumah dan mmenyebabkan meningkatnya konsumsi entertainment dari rumah masing-masing.[ii]

             Efek dari datangnya servis VOD telah terpecah menjadi positif atau negatif. Untuk efek positif, kita bisa melihat bahwa dengan berkembangnya servis VOD ini telah mendukung streaming secara legal. Sebuah riset menemukan bahwa 63% user daring di Indonesia menonton konten dari situs streaming illegal.[iii] Dengan berkembangnya platform VOD yang mudah diakses dan terjangkau, ini bisa merubah budaya streaming secara positif. Dampak lain juga bisa dilihat dari tersedianya konten berkualitas untuk para pengguna langsung dari rumah. Hal ini sangatlah krusial di tengah pandemi, dimana menonton di bioskop atau pergi keluar rumah tidak disarankan. Ini mendorong keluarga-keluarga untuk tetap tinggal dirumah dan meminimalisir penyebaran virus. Banyak platform VOD yang telah memberikan masa percobaan gratis dan diskon untuk mempromosikan kampanye ini, seperti GoPlay, Iflix dan Vidio.

             Namun, munculnya servis VOD di Indonesia juga telah mendapatkan kritik-kritik seperti keraguan awal terhadap platform VOD, kecenderungan pasar Indonesia terhadap platform streaming luar dan respon yang berbeda-beda dari pemerintah. Di saat Netflix memasuki pasar Indonesia pada 2016, servis VOD masih lumayan baru dan Netflix mendapatkan reaksi hangat pada saat itu. Pengguna Netflix pada dua tahun pertama di negara ini (95.000 pengguna) tidak setinggi  pengguna Netflix negara-negara lain.[v] Hal ini bisa disebabkan dengan rendahnya penetrasi internet di Indonesia, dominasi dari TV konvensional, preferensi rakyat Indonesia terhadap program TV lokal dan tingginya pembajakan konten di Indoenesia.[vi] Hal ini juga dibuat lebih buruk dengan adanya blokade Netflix oleh penyedia internet terbesar Indonesia, Telkom dan 140 juta pelanggan servis Telkom di Indonesia. Telkom memblokir Netflix pada jaringan mereka dikarenakan argumen Telkom bahwa Netflix tidak memenuhi peraturan pemerintahan seperti hukum sensor konten.

            Meskipun demikian, servis streaming telah berkembang sangat pesat di Indonesia, seperti yang bisa dilihat dari pendapatan VOD Indonesia di 2020 yang paling banyak datang dari servis streaming video-on-demand  (SVoD) sebesar US$140 juta.[viii] Ini juga didorong dengan munculnya platform streaming lainnya dan meningkatnya pengguna SVoD di Indonesia. Namun, pasar ini didominasi oleh Netflix sebagai perusahaan streaming terbesar dengan pengguna Netflix Indonesia bertambah tiap tahunnya dan diproyeksikan akan mempunyai jumlah pengguna seberar 900.000 di akhir tahun ini.[ix] Alasan dari dominasi Netflix ini adalah campuran dari preferensi publik dan ketidakjelasan sikap pemerintah terhadap perusahaan SVoD internasional. Di saat Telkom mengumumkan bahwa mereka akan memblokir Netflix di jaringan mereka, hal ini bisa dilihat sebagai cara Telkom untuk melindungi industri kreatif Indonesia melawan kompetitsi dari luar. tetapi, keputusan ini mendapatkan banyak kritik dari pengguna Telkom dan akhirnya blokade Netflix oleh Telkom diangkat pada Juli 2020.[x] Dominasi Netflix dalah industri ini bisa dianggap menurunkan tingkat kompetisi dari streaming platform lokal seperti GoPlay dan Genflic. Kencenderungan rakyat Indonesia untuk memilih Netflix sebagai servis streaming pilihan mereka telah membuat pasar monopolistik untuk servis SVoD di negara ini.

            Alasan lain dari kurang berkembangnya servis streaming lokal juga bisa disebabkan oleh respons berbeda-beda dari pemerintah tentang platform streaming di Indonesia. Kementerian Komunikasi dan Informatika lebih berhati-hati dengan perkembangan Netflix dan juga telah mengancam akan memblokir Netflix Karena kurangnya konten lokal di katalog mereka. Tetapi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berkolaborasi dengan Netflix untuk menayangkan film-film dokumenter original Netflix di TVRI sebagai program ‘Belajar dari Rumah’ mereka.[xi] Inkonsistensi dari respons pemerintah menunjukkan bahwa pemerintah tidak mempunyai sikap jelas dalam menghadapi perkembangan servis streaming, yang bisa menjadi masalah jika pemerintah lebih ingin mempromosikan industri kreatif lokal. Dari poin ini, kita bisa melihat bahwa respon Indonesia untuk isu ini reaktif dan bukan responsif. Hal ini bisa menghambat respons sesuai yang seharusnya diambil pemnerintah dalam menghadapi servis streaming di Indonesia.

            Jadi apa yang bisa dilakukan untuk menghadapi isu ini? Ada beberapa upaya yang sudah diambil untuk mengurangi pengaruh Netflix sebagai SVoD terbesar di negara ini. Salah satunya adalah bermunculnya aplikasi SVoD lokal seperti GoPlay dan Genflix, dimana keduanya berusaha untuk menarik kalangan muda untuk menggunakan servis mereka.[xii] Jika kita ingin mendukung industri kreatif lokal lebih lanjut lagi, menggunakan servis streaming lokal bisa menjadi salah satu jawabannya. Peningkatan pengguna dari servis streaming lokal bisa membantu produk lokal Indonesia menjadi lebih kompetitif dalam melawan servis SVoD dari luar. Langkah lain yang bisa diambil juga termasuk meningkatkan kolaborasi dengan pembuat film Indonesia untuk membuat atau memasukan karya mereka ke dalam platform-platform tersebut. Ini dilakukan untuk meningkatkan aksesibilitas film Indonesia ke publik dan juga untuk membuat konten berkualitas yang bisa mempromosikan industri film Indonesia. Netflix juga bisa menggunakan platform mereka untuk melayani pasar Indonesia dengan memberikan platform untuk pembuat film Indonesia berkompetisi dengan katalog internasional Netflix (Netflix Originals). Untuk menutup, setiap pihak di dalam industri SVoD ini harus menemukan jalan yang tepat untuk membuat system yang komprehensif dan berkelanjutan untuk mempromosikan industri kreatif Indonesia kedepannya.