8 Obat Hingga Vitamin untuk Lawan COVID-19 dan Terdaftar di BPOM

8 Obat Hingga Vitamin untuk Lawan COVID-19 dan Terdaftar di BPOM

Hingga saat ini, dunia masih terus berperang melawan virus corona tipe baru, SARS-CoV-2. Virus mematikan ini menyebabkan wabah COVID-19 di mana pada orang dewasa akan menyerang utamanya sistem pernapasan. 

Di Indonesia, jibaku pun dilakukan tim medis untuk merawat dan menyembuhkan pasien-pasien COVID-19. Berbagai obat-obatan dan vitamin digunakan untuk membantu melawan virus di dalam tubuh pasien.

Untuk itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia bersama dengan berbagai tim ahli di bidang kesehatan telah menyusun modul "Informatorium Obat COVID-19" untuk para pasien di Indonesia pada 13 April 2020. Hal ini bertujuan untuk memberikan informasi lengkap mengenai obat apa saja yang telah terdaftar dan boleh digunakan oleh tenaga medis di seluruh Indonesia. 

Standar yang digunakan untuk menyusun daftar obat tersebut berasal dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pengalaman negara lain, serta berbagai publikasi ilmiah. Tak hanya itu, Kepala BPOM Penny K. Lukito juga mengatakan bahwa daftar tersebut akan terus diperbarui sesuai dengan perkembangan yang terjadi.

Obat apa sajakah yang termasuk di dalam daftar resmi BPOM tersebut?

1. Antivirus

Jenis pertama yang terdaftar dalam BPOM adalah antivirus. Ada beberapa obat yang bisa digolongkan ke dalam kategori ini, seperti Lopinavir dan Ritonavir, Favipiravir, Remdesivir, dan Oseltamivir.

BPOM juga menyertakan indikasi, mekanisme, dosis, hingga efek samping setiap obat.

Khasiat obat-obat antivirus ini telah terbukti pada penggunaan sebelumnya. Contohnya, Favipiravir yang biasa dipakai untuk menyembuhkan influenza akut atau Remdesivir yang biasa diberikan kepada pasien dengan infeksi SARS-CoV, Ebola, dan MERS-CoV. 

2. Antivirus pada penggunaan kondisi darurat

Hanya ada dua obat yang masuk ke dalam daftar ini, yaitu Klorokuin Fosfat dan Hidroksiklorokuin Sulfat. Kenapa antivirus ini dipisahkan dari empat obat sebelumnya? 

Tidak ada keterangan yang rinci mengenai hal ini. Namun jika dilihat dari peringatan yang ditulis oleh BPOM, jenis obat ini hanya boleh digunakan dalam keadaan mendesak, karena bisa menyebabkan efek samping yang cukup berat.

Beberapa efek samping yang muncul dari penggunaan obat jenis ini adalah gangguan hati, hematologi, hipoglikemia, dan lain-lain.

3. Antibiotik

Seperti yang kita tahu, antibiotik adalah obat yang ampuh untuk membunuh bakteri di dalam tubuh. Untuk menangani COVID-19, BPOM memiliki empat obat antibiotik yang direkomendasikan.

Apa saja?

Mereka adalah Azitromisin, Levofloksasin, Meropenem, dan Sefotaksim. Jadi, obat-obat itulah yang sebaiknya digunakan tenaga medis jika pasien mengalami infeksi silang. 

4. Analgesik non-opioid

Analgesik adalah obat yang digunakan untuk meredakan rasa sakit atau nyeri pada pasien. Sedangkan non-opioid menandakan bahwa obat tersebut bebas dari kandungan narkotika. Pereda nyeri ini akan bekerja pada reseptor rasa nyeri saja, tidak sampai memberikan pengaruh pada sistem saraf pusat. Hanya ada satu obat analgesik non-opioid yang direkomendasikan BPOM, yaitu Paracetamol atau Asetaminofen.

5. Agonis adresnoseptor beta-2 selektif

Obat apakah ini? Ternyata agonis adresnoseptor beta-2 selektif atau agonis beta adalah obat yang digunakan untuk melegakan pernapasan. BPOM mengatakan bahwa obat ini dipakai untuk pasien COVID-19 yang mengalami reaksi asma, bronkospastik, dan penyakit obstruksi jantung kronis (PPOK). Obat yang direkomendasikan adalah Salbutamol Sulfat. 

6. Obat sistem saraf pusat-golongan benzodiazepin

Selanjutnya adalah obat yang mengandung benzodiazepin. Obat seperti ini biasanya digunakan untuk menenangkan pasien atau singkatnya adalah obat bius. Midazolam adalah yang direkomendasikan BPOM untuk menangani hal ini. 

7. Pengencer dahak

Salah satu indikasi penderita COVID-19 adalah batuk. Pasien COVID-19, terutama yang mengalami gejala berat, membutuhkan pengencer dahak.

Obat ini berguna untuk melarutkan lendir kental pada bronkus dan paru-paru. Dengan begitu, pasien bisa mengeluarkannya secara lebih mudah. Jika pasien membutuhkannya, tenaga medis bisa memberikan obat bernama Asetilsistein. 

8. Vitamin

Ingat, salah satu cara ampuh melawan COVID-19 adalah sistem imun yang kuat. Nah, vitamin juga diperlukan oleh para penderita COVID-19 untuk memperkuat sistem imun tadi. 

BPOM merekomendasikan asam askorbat atau vitamin C serta Alfa Tokoferol Asetat atau vitamin E. Keduanya bisa meningkatkan kemampuan sel-sel imun untuk memerangi virus yang ada di tubuh. Dengan begitu, proses pemulihan pasien bisa berlangsung lebih cepat. 


Meski obat-obatan di atas ada di daftar BPOM, kamu tetap harus konsultasi ke dokter ya jika mengalami gejala-gejala COVID-19.